Welcome to My Blog...

Terima kasih telah mengunjungi blog yang apa adanya ini...hehehe
See my facebook: Zahra Dilla Aaisya

Rabu, 06 Juli 2011

Perilaku Seksual Remaja Pranikah


(Artikel sosial budaya yang ku buat saat awal kuliah...semoga bermanfaat ^-^)         
             Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologik, perubahan psikologik, dan perubahan sosial. Masa remaja sering disebut juga sebagai masa pancaroba, masa krisis, dan masa pencarian identitas. Dalam usahanya mencari identitas diri, seorang remaja sering membantah orang tuanya karena ia mulai mempunyai pendapat-pendapat sendiri, cita-cita serta nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan orang tuanya.
            Sebenarnya mereka belum cukup mampu untuk berdiri sendiri karena masih dalam masa peralihan. Oleh karena itu, sering mereka terjerumus ke dalam kegiatan-kegiatan yang menyimpang dari aturan atau disebut dengan kenakalan remaja. Salah satu bentuk kenakalan remaja itu adalah perilaku seksual remaja pranikah.
Pada zaman sekarang ini, perilaku remaja sangat memprihatinkan masyarakat Indonesia. Sebenarnya perilaku seksual remaja pranikah sudah ada sejak dulu. Akan tetapi, informasi tentang perilaku tersebut cenderung tidak terungkap secara luas. Sekarang kondisi masyarakat telah berubah, dengan telah makin terbukanya arus informasi, makin banyak pula penelitian atau studi yang mengungkap permasalahan perilaku seksual remaja, termasuk hubungan seksual pranikah. Berbagai kasus dan hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan pergeseran nilai-nilai tersebut.
            Apabila di Amerika anak muda berusia 15-24 tahun melakukan hubungan seksual rata-rata pada usia 15 tahun bagi laki-laki dan usia 17 tahun bagi perempuan, sedangkan di Indonesia satu dari lima anak pertama yang dilahirkan oleh wanita menikah pada usia 20-24 tahun merupakan anak hasil hubungan seksual sebelum menikah. Maraknya pemberitaan di media massa mengenai percum, kupu-kupu muda, perek kampus, dan berbagai istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan perilaku seksual remaja, terutama remaja pranikah, juga menunjukkan semakin permisifnya perilaku seksual remaja. Tidak tepat dan tidak benarnya informasi mengenai seksual dan reproduksi yang mereka terima semakin membuat runyam masalah perilaku seksual remaja pranikah ini.
            Di Indonesia sendiri ada beberapa penelitian yang menggambarkan fenomena perilaku seksual remaja pranikah. Pada tahun 1989 penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Psikologi UI menunjukkan bahwa ada 61,0% anak usia 16-20 tahun pernah melakukan seksual intercouse (sanggama) dengan temannya. Dan suatu penelitian terhadap siswa SMTP di Bandung, ternyata terdapat 10,53% dari mereka pernah melakukan ciuman bibir, 5,60% pernah melakukan ciuman dalam, dan 3,86% pernah melakukan hubungan seksual.
            Penelitian lain yang dilakukan oleh sebuah majalah mingguan Ibu Kota dengan responden 100 orang pelajar dari 26 SMA di Jakarta, menunjukkan bahwa 41,0% pelajar mengaku pernah melakukan hubungan seks dengan lawan jenis. Di samping responden tadi, ada 42,0% yang pernah berciuman, 4,0% pernah meraba alat vital, dan 12,0% pernah menyenggol, memegang, meraba, membelai bagian tubuh yang peka milik lawan jenisnya. Hanya 1,0% saja yang tidak mempunyai pengalaman seks dengan lawan jenis. Walaupun masih diperdebatkan keabsahan hasil penelitian tersebut paling tidak data di atas mengingatkan kita betapa besarnya masalah perilaku seks pada remaja kita.
            Bila kita lihat kecenderungan perilaku seksual remaja pranikah berdasarkan tempat tinggal mereka, ternyata baik di desa maupun di kota perilaku tersebut juga sangat memprihatinkan. Penelitian yang dilakukan oleh Faturochman dan Soetjipto di Bali (1989) menunjukkan bahwa persentase remaja laki-laki di desa dan di kota yang telah melakukan hubungan seks masing-masing adalah 23,6% dan 33,5%. Penelitian dilakukan oleh Laboratorium Antropologi FISIP UI Hidayana dan Saefuddin, (1997) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan perilaku seksual yang cukup mencolok pada remaja desa dan remaja kota di Sumatera Utara dan di Kalimantan Selatan. Di kedua tempat penelitian itu terlihat adanya kecenderungan perilaku seksual yang permisif baik di desa maupun di kota. Masih banyak lagi hasil penelitian yang menggambarkan fenomena perilaku seksual remaja pranikah.
            Faktor-faktor yang saling terkait kondisi saat ini menyebabkan perilaku seksual remaja pranikah semakin menggejala akhir-akhir ini. Namun, banyak remaja tidak mengindahkan bahkan tidak tahu atau seolah tidak peduli terhadap dampak dari perilaku seksual mereka. Salah satu dampaknya adalah hamil yang tidak dikehendaki. Hal ini membawa remaja pada dua pilihan, melanjutkan kehamilan atau melakukan aborsi. Kemudian tertular penyakit seksual. Hal ini disebabkan sering kali remaja melakukan hubungan seks yang tidak aman seperti kebiasaan berganti-ganti pasangan dan melakukan anal seks. Dampak lainnya adalah konsekuensi psikologis. Setelah kehamilan terjadi, pihak perempuan atau tepatnya korban utama dalam masalah ini akan ditempatkan dalam posisi terpojok yang sangat dilematis.
            Dalam pandangan masyarakat, remaja putri yang hamil merupakan aib keluarga, yang secara telak mencoreng nama baik keluarga dan ia adalah si pendosa yang melanggar norma-norma sosial dan agama. Penghakiman sosial ini tidak jarang meresap dan terus tersosialisasi dalam diri remaja putri tersebut. Perasaan bingung, cemas, malu, dan bersalah yang dialami remaja setelah mengetahui kehamilannya bercampur dengan perasaan depresi, pesimis terhadap masa depan, dan kadang disertai rasa benci dan marah baik kepada diri sendiri maupun kepada pasangan, dan kepada nasib membuat kondisi sehat secara fisik, sosial, dan mental yang tidak terpenuhi. Tidak jarang juga ditemukannya kasus bunuh diri akibat tidak tahannya remaja tersebut menghadapi semua dampak yang mereka terima.
            Adanya dampak tersebut menyebabkan mereka yang semula diharapkan menjadi subjek pembangunan justru akan menjadi beban dari pembangunan itu sendiri. Oleh karena itu, dampak yang ditimbulkan oleh perilaku seksual remaja pranikah merupakan akar masalah yang harus segera diatasi dan perlu dicegah. Melihat jumlah remaja yang cukup besar tersebut tidak menutup kemungkinan perilaku seksual remaja pranikah dan dampak yang ditimbulkannya akan menjadi salah satu masalah sosial di Indonesia yang akan semakin mewabah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar